KKN 120 UIN Sunan Kalijaga dan KNPI Bireuen Bersinergi Bangun Bank Sampah dan Lahan

Daerah, Pendidikan4 Dilihat

Aksarakata.id, Lhokseumawe – Sebanyak 20 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 120 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggandeng DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bireuen.

Untuk membangun gerakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Bireuen.

Sinergi tersebut mengemuka dalam audiensi mahasiswa KKN dengan pengurus DPD II KNPI Bireuen di sekretariat organisasi kepemudaan itu, Jumat (24/7/2026).

Kolaborasi ini menyasar dua desa binaan, yakni Desa Alue Mangki, Kecamatan Gandapura, dan Desa Uteun Gathom, Kecamatan Peusangan Selatan.

Program yang dirancang tidak hanya fokus pada persoalan kebersihan lingkungan, namun juga mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah diakui masih menjadi tantangan.

Oleh karena itu, Perbanusa Bireuen menginisiasi Gerakan Pemilahan Sampah sebagai upaya membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, khususnya dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Ketua KNPI Bireuen, Abdul Halim, mengatakan keberadaan bank sampah induk diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Sampah itu biasanya dikenal sebagai sesuatu yang kotor. Kehadiran bank sampah induk adalah untuk mengenalkan bahwa sampah itu bernilai,” ujar Abdul Halim.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat jika dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, program ini juga melibatkan BSI Juang Lestari sebagai mitra utama. Pemerintah daerah juga telah memberikan kewenangan kepada desa untuk mengelola sampah secara mandiri dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Atas dasar itu, mahasiswa KKN dan KNPI Bireuen sepakat untuk segera melakukan koordinasi dengan camat di masing-masing wilayah. Langkah tersebut diperlukan agar program dapat berjalan sejalan dengan kebijakan pemerintah dan memperoleh dukungan dari seluruh pihak terkait.

Program utama akan dipusatkan di Desa Alue Mangki sesuai Arah Perbanusa, kemudian dikembangkan ke Desa Uteun Gathom. Pendampingan teknis akan dilakukan secara kolaboratif, termasuk pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik serta pembuatan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kolaborasi tersebut nantinya ditandai dengan diluncurkannya unit bank sampah yang melibatkan mahasiswa KKN, KNPI Bireuen, Perbanusa, dan BSI Juang Lestari.

Bank sampah ini diharapkan tidak sekadar menjadi tempat mengumpulkan sampah, tetapi juga tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang berangkat dari kebiasaan sederhana: memilah sampah dari rumah.

Lebih jauh lagi, para pihak juga menaruh perhatian pada program yang diinginkan setelah masa KKN berakhir. Sejak awal, konsep exit program telah disiapkan agar program bank sampah dan konservasi lahan tidak berhenti setelah 45 hari pengabdian masa mahasiswa.

Masyarakat akan dibekali keterampilan dan pengetahuan mengenai program pengelolaan serta manajemen.

Setelah mahasiswa meninggalkan desa, pendampingan akan dilanjutkan oleh KNPI Bireuen bersama BSI Juang Lestari.

Dengan semangat kolaborasi antara mahasiswa, pemuda, masyarakat, dan mitra lingkungan, gerakan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran baru bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dapat menjadi gerakan bersama yang memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.(Alfarizi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *