Rumah Hancur Akibat Gempa NTT, Satu Keluarga Tinggal di Kandang Babi

Daerah47 Dilihat

Aksarakata.id, Manggarai – Air mata Seriani Wati Mengo tak kuasa dibendung saat menceritakan nasib keluarganya pasca gempa di NTT.

Rumah yang dibangun dengan keringat perantauan selama satu dekade kini rata dengan tanah.

Bersama suami dan tiga anaknya, warga Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai kini terpaksa menempati bekas kandang babi sebagai satu-satunya tempat berlindung.

Di depan bangunan sempit yang dulunya tempat memelihara babi itu, Seriani menceritakan betapa beratnya takdir yang menimpa keluarga kecil mereka.

“Sebelumnya ini kandang babi, sekarang kami jadikan tempat tinggal. Rumah kami rusak berat, tak ada lagi tempat lain,” ungkapnya kepada CNNindonesia.com , Senin (31/8/2026).

Keluarga Seriani sempat bergabung ke posko pengungsian. Namun melihat kondisi posko yang masih sangat darurat berdebu, rawan hujan, dan tak layak huni mereka memilih kembali ke pekarangan rumah dan memanfaatkan kandang yang sudah diperbaiki seadanya.

“Kami sempat di posko, tapi di sana juga belum layak. Takut hujan, banyak debu. Akhirnya kami pilih memperbaiki kandang babi dan tinggal di sini,” tuturnya.

Kehidupan kian terjepit. Sebagai petani dan penenun, Seriani dan suami, Siprianus Baeng, tak bisa lagi beraktivitas normal.

Sementara kebutuhan makan dan biaya sekolah tiga anak tetap harus dipenuhi. Stok beras bantuan pemerintah yang dulu diterima kini tinggal tiga kilogram.

“Beras sisa bantuan tinggal tiga kilo. Kami tak bisa bekerja, padahal butuh makan. Kami butuh beras, obat-obatan, air bersih, belum lagi biaya sekolah anak-anak,” ungkapnya cemas.

Kekhawatiran terbesar bukan hanya soal makan. Anak pertama duduk di kelas III SMA, anak kedua kelas II SMP, dan bungsu berusia enam tahun. Di tengah-tengah rumah, masa depan pendidikan mereka terancam.

“Kami sudah berpikir, bagaimana cara menyekolahkan anak kalau rumah saja sudah tak ada?”

Rumah yang runtuh itu bukanlah bangunan biasa. Ia adalah hasil perjuangan 10 tahun merantau ke Kalimantan, menabung pelan-pelan demi pulang dan membangun tempat bernaung di kampung halaman. Semua itu musnah dalam hitungan detik.

“Sepuluh tahun kami merantau ke Kalimantan hanya untuk membangun rumah ini. Tapi sekejap gempa datang, semuanya hancur. Yang paling menyedihkan, sekarang kami tinggal di kandang babi dan kandang ayam,” kata Seriani sambil terisak.

Di tengah keterbatasan dan kepedihan itu, satu harapan yang tersisa, agar pemerintah turun melihat kondisi nyata mereka dan memberi bantuan untuk membangun kembali rumah yang telah direnggut bencana.

“Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung keadaan kami. Semoga ada bantuan untuk merenovasi rumah kami yang rusak berat,” harapnya.(Mak/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *