Sawah di Aceh Besar Mengering, Petani Khawatir Gagal Panen

Daerah3 Dilihat

Aksarakata.id, Kota Jantho — Kekeringan yang mulai melanda areal persawahan di Kabupaten Aceh Besar kembali memicu sorotan terhadap kinerja pemerintah dalam mengantisipasi krisis air yang terus berulang setiap tahun. Di tengah fase pertumbuhan tanaman padi, petani kini dihadapkan pada ancaman gagal panen akibat minimnya pasokan air irigasi.

Pantauan di lapangan, sejumlah lahan sawah terlihat mulai mengering. Retakan tanah muncul di berbagai titik, sementara aliran air dari sungai kecil dan saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pengairan dilaporkan menyusut drastis, bahkan berhenti mengalir.

Salah seorang petani, Aminah (65), mengatakan kondisi ini sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir tanpa ada solusi nyata. Sungai kecil yang biasanya menjadi andalan petani kini tidak lagi mampu mengairi sawah.
“Air di sungai kecil yang biasa mengaliri sawah sudah kering. Akibatnya sawah kami mulai kekurangan air,” kata Aminah, di Biluy, Senin (27/7/2026).

Ia mengungkapkan, kekeringan bukan kali pertama terjadi, namun dalam beberapa tahun terakhir kondisinya semakin parah. Menurutnya, perubahan cuaca yang semakin panas dan minimnya curah hujan mempercepat keringnya lahan pertanian.
“Beberapa tahun ini kekeringannya sangat parah. Tapi kami tidak melihat ada solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Kondisi sawah di Kecamatan Montasik Aceh Besar mengalami kekeringan, Senin (27/7/2026). FOTO/RINALDI

Kondisi ini dinilai sangat berisiko karena terjadi saat tanaman padi berada pada fase vegetatif atau masa pertumbuhan awal yang membutuhkan suplai air cukup. Jika kekeringan terus berlanjut, tanaman berpotensi mengering sebelum memasuki masa pembentukan bulir.
“Kami takut padi jadi kering sebelum panen. Kalau itu terjadi, tentu hasilnya akan turun, bahkan bisa gagal panen,” tambahnya.

Situasi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Aceh Besar, seperti kawasan Indrapuri hingga Montasik. Sejumlah petani mengeluhkan distribusi air irigasi yang tidak merata dan tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian.

Aris, salah seorang warga, menyebutkan bahwa kekurangan air ini menunjukkan lemahnya pengelolaan sistem irigasi di daerah tersebut.
“Di beberapa wilayah seperti Indrapuri sampai Montasik, sawah sudah mulai kekurangan air. Ini bukan hal baru, tapi selalu terulang tanpa solusi jelas,” kata Aris.

Menurutnya, persoalan irigasi seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di Aceh Besar.

Para petani kini mendesak Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian dan juga Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk tidak hanya bersikap reaktif, tetapi segera mengambil langkah konkret dan terukur. Mulai dari normalisasi saluran irigasi, perbaikan distribusi air, hingga penyediaan pompa air sebagai solusi darurat di tengah kondisi krisis.

Kondisi sawah di Kecamatan Montasik Aceh Besar mengalami kekeringan, Senin (27/7/2026). FOTO/RINALDI

Selain itu, mereka juga menilai perlunya kebijakan jangka panjang yang lebih serius dalam pengelolaan sumber daya air, agar kekeringan tidak terus menjadi persoalan tahunan yang merugikan petani.
“Harapan kami pemerintah jangan hanya menunggu masalah muncul. Harus ada solusi permanen supaya kami tidak terus dirugikan setiap musim kemarau,” tegas Aris.

Hingga saat ini, para petani hanya bisa bertahan sambil berharap hujan segera turun. Namun tanpa intervensi nyata dari pemerintah, kekeringan yang terus berulang dikhawatirkan tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.(Alfarizi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *