Seumapa Seni Tutur Aceh yang Kian Langka

Advertorial49 Dilihat

aksarakata.id – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah pola interaksi sosial masyarakat, seni tutur tradisional Aceh seperti Seumapa perlahan bergerak ke tepian ingatan. Seni lisan yang dahulu menjadi medium edukasi, hiburan, sekaligus perekat sosial ini kini berada pada persimpangan antara dilestarikan atau dilupakan. Namun di sejumlah desa, terutama di wilayah Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Besar, gema Seumapa masih terdengar meski tidak sesering dulu menjadi penanda bahwa tradisi ini belum sepenuhnya padam.

Seumapa merupakan bentuk seni tutur yang umumnya dibawakan oleh seorang penutur laki-laki, meskipun dalam beberapa wilayah pernah ditemukan varian yang dibawakan secara berpasangan. Seorang peuseumapa (penutur Seumapa) menyampaikan cerita, nasihat, syair religius, hingga humor dalam bentuk pantun berirama. Struktur tuturannya khas: ritmis, berulang, dan disampaikan dengan intonasi naik turun sehingga mudah diingat oleh pendengar. Format tersebut membuat Seumapa efektif sebagai sarana penyampaian pesan moral dan nilai-nilai adat sejak masa ketika masyarakat Aceh belum banyak terpapar media tertulis.

Dahulu, Seumapa dibawakan pada berbagai kesempatan: khitanan, kenduri, penyambutan tamu adat, atau malam menjelang pesta perkawinan. Warga berkumpul di meunasah atau halaman rumah, duduk melingkar, dan mendengarkan sang penutur membuka cerita yang kadang bernuansa religius, kadang bersifat jenaka, tetapi selalu menyimpan pesan etis yang kuat. Dalam konteks itu, Seumapa bukan hanya hiburan, tetapi instrumen pembelajaran sosial.

Salah satu aspek menarik dari Seumapa adalah fleksibilitasnya. Seorang penutur berpengalaman dapat menyesuaikan alur tuturannya dengan suasana acara, karakter audiens, bahkan isu-isu aktual yang sedang diperbincangkan masyarakat. Kemampuan improvisasi ini menjadi ciri utama yang membedakan Seumapa dari bentuk seni tutur lain. Alhasil, setiap penampilan terasa unik dan tidak selalu dapat diulang secara persis.

Meski demikian, keberlanjutan Seumapa menghadapi tantangan nyata. Minimnya regenerasi menjadi isu paling krusial. Banyak penutur senior mengaku sulit menemukan penerus yang bersedia mempelajari teknik panjang dan kompleks yang diperlukan untuk menguasai seni ini. Menghafal ratusan bait, mempelajari pola irama, hingga melatih kemampuan bercerita bukan proses yang mudah di tengah daya tarik hiburan digital yang lebih instan.

Selain itu, perubahan pola hidup masyarakat turut memengaruhi. Acara-acara adat yang dulu menjadi ruang pertunjukan Seumapa semakin jarang digelar atau beralih pada format hiburan modern. Generasi muda Aceh mengenal seni K-pop dan gawai sebelum mengenal Seumapa, sebuah realitas yang mengubah selera dan preferensi budaya.

Kendati demikian, tidak semua kabar tentang Seumapa suram. Sejumlah komunitas budaya di Aceh mulai melakukan upaya revitalisasi. Para pegiat seni lokal menggelar pelatihan singkat, lomba baca pantun tradisional, hingga dokumentasi audiovisual untuk mencatat ragam tuturan yang masih tersisa. Beberapa sekolah juga mulai memasukkan seni tutur Aceh dalam kegiatan ekstrakurikuler sebagai upaya agar siswa mengenal akar budayanya.

Di sisi lain, ada peluang untuk menjembatani Seumapa dengan kebutuhan budaya kontemporer. Beberapa penutur muda mencoba membawakan Seumapa dalam format panggung modern, termasuk menggabungkannya dengan musik tradisional seperti rapa’i atau menyesuaikan gaya tutur agar lebih dinamis. Eksperimen seperti ini membuka ruang baru bagi Seumapa untuk tetap relevan tanpa kehilangan nilai-nilai tradisinya.

Pelestarian Seumapa tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan satu bentuk seni, melainkan juga menjaga memori kolektif masyarakat Aceh. Tradisi lisan adalah arsip hidup yang menyimpan cara pandang, kearifan lokal, dan narasi sejarah yang tidak selalu tercatat dalam dokumen tertulis. Dalam Seumapa, terkandung nasihat tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tata krama sosial, hingga satire halus mengenai dinamika kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kehilangan Seumapa berarti kehilangan salah satu cara Aceh membaca dirinya sendiri.

Upaya pelestarian tentu memerlukan kolaborasi: pemerintah daerah melalui kebijakan budaya, lembaga pendidikan melalui kurikulum lokal, serta komunitas masyarakat yang menyediakan ruang pertunjukan. Namun yang paling penting adalah minat generasi muda untuk menjadi penutur baru, karena tanpa penerus, Seumapa hanya akan menjadi arsip audiovisual yang sunyi.

Di sebuah malam di pedalaman Pidie, seorang penutur tua membuka cerita dengan irama pelan, disambut tawa anak-anak yang duduk di depannya. Adegan itu menjadi pengingat bahwa Seumapa masih hidup walau rapuh dan menunggu tangan-tangan muda untuk menjaganya. Selama masih ada yang mau mendengarkan dan meneruskannya, seni tutur itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari Aceh.(ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *